Alamnya Tesya
Karya : Aisyah Jihan Amirahma (VIII H)
Kesunyian malam dengan separuh cahaya bulan. Purnama itu tertutup awan putih beradu dengan kelabu. Awan itu mengandung jutaan ton air yang berasal dari seluruh dunia. Membawa kisah tentang dua insan yang menyimpan sejuta harapan di dalam hatinya masing masing. Di atas selembar kertas dia mencurahkan semua isi hati kecilnya. Seorang gadis dengan paras menawan duduk merenung menatap sendu ke arah jendela kamarnya. Hidup dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya dan tak luput dari kedua abangnya, yang kini pergi merantau ke negara sebelah setelah menamatkan kuliahnya. Gadis itu sangat cantik, kulitnya halus, mulus dan putih bersinar seperti beras. Bola mata coklat terang yang menambah keelokan parasnya. Tangan indahnya yang terikat gelang emas 10 karat, menyibakan rambut hitam legam, yang nampak terawat, ke belakang. Gadis cantik nan memesona itu lahir dengan nama, Tesya.
“Nak, ayo tidur besok kau masih sekolah kan sayang?” tegur ibu Tesya sambil membuka pintu kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya.
“Tapi aku ingin pindah ke desa, Ibu,” jawab Tesya sambil agak sesegukan.
“Sudah berapa kali Ibu katakan padamu? Apa yang ingin kamu lihat di sana? Hanya hamparan sawah yang membosankan, gunung gunung dan sungai yang panas. Kau seharusnya bersyukur tinggal di sini dengan penuh kecukupan. Dari pada mereka yang hidup serba kekurangan. Bahkan di sini kau bisa mengunjungi gedung-gedung pencakar langit, belanja di mall,dan masih banyak lagi,” jelas Ibu panjang lebar
“Tapi itu yang ku inginkan.” singkat Tesya.
Ibu hanya menghela napas dan berkata, “Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Besok kita akan pergi ke desa. Tapi, kau harus berjanji agar terus bahagia,” tukas Ibu.
Apa yang Tesya dengar dia akan pergi ke desa? Dia sangat bahagia, sejak ditinggalkan kedua abangnya dia tak pernah segembira ini. Ya, karena dulu dia sering diajak oleh abangnya ke desa untuk mengerjakan skripsinya dari kampus. Dia kira harapan ini hanya sebatas pungguk merindukan bulan. Karena mana mungkin orang tuanya mau meninggalkan usahanya yang sedang naik daun dan sukses besar di kota ini. Namun Tesya bukan anak yang manja, seperti anak orang kaya pada umumnya ya. Dia sangat rajin dan penurut.
“Benarkah Ibu? Hu, Ibu yang terbaik!” seru Tesya kegirangan.
Esok hari pun tiba. Matahari tersenyum lebar, langit sangat cerah dan indah, seperti telah menyetujui Tesya, untuk menikmati apa yang ia inginkan selama ini. Namun ada yang membuat suasana pagi ini sedikit terganggu. Benar suara bising dan ribut dari kamar Tesya.
“Ibu, ayo kita berangkat. Aku sudah siap!” teriak Tesya yang berlari sambil sedikit tunggang langgang, menyandung barang barang yang akan ia bawa nanti.
“Apa! Ini baru jam berapa sayang? Ya sudah, tunggu Ibu di luar!” perintah ibu.
Tesya berjalan ke depan rumahnya. Dia masih bertanya tanya, siapa sajakah yang akan menjadi temannya di sana, dan hewan menarik apa sajakah yang akan ia dapatkan di sana.
Beberapa menit kemudian Ibu sudah siap. Baiklah ibu sudah siap, mesin mobil sudah panas waktunya berangkat. Mobil mulai keluar dari halaman rumah megah itu. Baru 12 km menjauh dari kota Tesya sudah bermimpi menggiring domba di padang rumput yang luas.
Perjalanan yang menantang bagi Ayah, karena selama ini mobil Avanza keluaran tahun lalu itu hanya menjajal halusnya jalan toll landai tengah kota. Sungguh melelahkan bagi sepasang pasangan paruh baya ini. Untuk memberi kebahagiaan putrinya mereka rela membeli tanah dan rumah di pinggir desa. Harganya dinilai cukup tinggi.
Hari mulai siang, sinar matahari menembus kaca mobil keluarga Tesya yang nampak meroda halus di atas aspal panas, yang berlubang cukup parah. Mobil mulai mengurangi kecepatannya dan berhenti. Keluarlah Ayah sambil memegangi punggungnya, wajar sudah 35 tahun mereka menikah, jadi sudah cukup tuakan. Ibu menyusul keluar, sambil sibuk colak-colek sunscreen, takut hitam. Tak lama Tesya keluar. Dia langsung menaruh barang barangnya ke tanah dan melompat masuk ke dalam parit samping rumah barunya itu.
Dia sangat bahagia, wajahnya bersinar bagaikan purnama. Senyum indah mengembang di wajahnya. Dia nampak riang mengejar ikan, menagkap katak dan bahkan menggiring domba milik tetangga.
“Ibu! Lihat, aku dapat capung hebatkan?” seru Tesya yang berada di dalam sawah perpadian.
Ibu hanya menggelengkan kepala. Tiba tiba Ayah datang dan berkata, “Biarkan kita beri kebagiaan pada anak kita. Sudah ditinggal kedua abangnya kau masih ingin mengurungnya di kepadatan kota? Lagi pula pergaulan di kota itu kurang baik untuk anak kita. Aku tau kau pasti mengerti,” jelas Ayah.
“Baiklah kalau itu yang membuat dia bahagia,” timpal ibu.
Pagi hari pun tiba. Namun matahari tidak seperti biasanya, langit sebiru samudra itu, tertutup mendung. Gemuruh guntur, dan kilatan cahaya petir yang saling berkejaran. Namun, semua itu takan menggugurkan niat Tesya untuk membolang dan melihat cinderamata dan barang barang yang dijual di pasar tradisional yang dekat dengan tempat barunya itu.
“Ibu aku pergi berpetualang lagi dulu ya!” seru Tesya.
Sesampainya di pasar ia melihat banyak pedagang yang menjual sayur mayur dan segala jenis buah yang sangat segar. Tanpa sengaja ia melihat seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Tesya. Dia sangat cantik standar kecantikan di desa yang pastinya. Berbeda dengan Tesya, gadis itu berkulit sawo matang, ya, hitam hitam gula jawa walaupun hitam tetap manis wajahnya. Bola matanya hitam pekat dengan senyum yang manis. Rambutnya agak kemerah merahan terbakar panas natahari.
Tanpa pikir panjang Tesya langsung menghampiri gadis itu. Kemudian dengan sifatnya yang sangat ramah, Tesya menyapanya.
“Hai! Siapa namamu? Namaku Tesya. Dan di mana rumahmu?” tanya Tesya.
“Hai juga, namaku Saras, senang bertemu denganmu Tesya. Rumahku dekat dengan pasar ini. Ayo, kalau mau berkunjung,” ajak Saras.
“Iya, kalau boleh,” jawab Tesya.
“Ini rumahku Tesya aku tinggal bersama ayah dan kedua adikku. Ibuku sudah meninggal karena terkena demam berdarah. Kata ayahku, ini semua karena banyak pabrik besar yang membuang limbahnya ke sini, banyak juga dari kota dan banyak pohon di hutan yang ditebangi. Tapi sekali pun kami berteriak taka ada yang mau mendengar,” jelas Saras dengan mimik wajah yang bersedih.
“Apa! Ayo kita buat mereka bertanggung jawab. A ha ayo buat poster tentang alam di sini, mungkin dengan begitu mereka akan tau,” kata Tesya.
“Aku akan membantumu sebisaku” tambah Saras.
Sejak itu, Tesya, Saras, dan ayahnya, berjuang keras untuk membuat,menyebarkan dan bahkan mempromosikan poster itu. Tak lama, banyak orang yang sudah tau apa yang terjadi di desa. Akhirnya demo besar besaran terjadi, ya, tepatnya di dekat pabrik itu. Setelah lama terpuruk dan bersembunyi akhirnya pemilik pabrik itu angkat bicara,
“Selamat siang Bapak dan Ibu. Saya di sini mewakili semua kariawan saya, akan memohon maaf atas semua yang terjadi dan akan mengganti rugi” itu isi pidato dari pemilik pabrik. Palu sudah diketuk, pidana penjara seumur hidup, membalaskan perbuatannya selama ini yang tidak menjaga lingkungan.
“Saras kita berhasil!” seru Tesya yang menyaksikan dari televisi.
“Iya, terimakasih Tesya,” jawab Saras.
Alam kini kembali seperti dulu, sungai dan hutan kembali asri. Hewan hewan hidup dengan tenang dan damai.
“Tesya! Ayo memetik sayur di kebun ayah ku!” teriak Saras yang melihat Tesya sedang menggiring dombanya.
“Iya, tunggu aku Saras!” sahut Tesya sangat gembira.
Tesya dan Saras berhasil mengembalikan alamnya kembali seperti semula.

